Gaya Hidup Sehat sebagai Upaya Pencegahan Silent Disease

 Gaya Hidup Sehat sebagai Upaya Pencegahan Silent Disease

(Hipertensi, Diabetes Melitus Tipe 2, dan Anemia)



Silent disease merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan tanpa gejala klinis yang jelas pada tahap awal, sehingga sering terdiagnosis terlambat setelah muncul komplikasi serius (World Health Organization [WHO], 2019). Di Indonesia, hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan anemia masih menjadi masalah kesehatan utama dengan prevalensi yang terus meningkat akibat perubahan gaya hidup masyarakat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2018). Ketiga kondisi ini memiliki faktor risiko yang saling berkaitan, terutama pola makan tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup tidak sehat, sehingga pencegahan melalui penerapan gaya hidup sehat menjadi strategi yang sangat penting.

Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sebagian besar penderitanya tidak menunjukkan gejala hingga terjadi kerusakan organ target seperti jantung, ginjal, dan otak (WHO, 2019). Pedoman American College of Cardiology/American Heart Association menyebutkan bahwa faktor gaya hidup seperti konsumsi garam berlebih, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok berperan besar dalam peningkatan tekanan darah (Whelton et al., 2018). Data Riskesdas Indonesia menunjukkan bahwa penerapan pola hidup aktif dan pengendalian berat badan dapat menurunkan risiko hipertensi secara signifikan pada usia produktif (Kemenkes RI, 2018).

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang sering berkembang tanpa gejala khas pada fase awal, sehingga banyak kasus baru terdeteksi setelah terjadi komplikasi (American Diabetes Association [ADA], 2023). Penelitian menunjukkan bahwa intervensi gaya hidup berupa perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan pengendalian berat badan mampu menurunkan risiko kejadian DM tipe 2 secara bermakna pada individu berisiko tinggi (Knowler et al., 2018). Selain itu, pendekatan gaya hidup sehat dinilai lebih efektif dan berkelanjutan dalam pencegahan DM tipe 2 dibandingkan intervensi farmakologis semata (ADA, 2023).

Anemia, khususnya anemia defisiensi besi, sering kali berkembang tanpa gejala spesifik dan kerap diabaikan karena dianggap sebagai kondisi ringan (WHO, 2015). Namun, anemia dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi, dan penurunan produktivitas (Cappellini & Motta, 2015). Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pola makan tidak seimbang dan rendah zat besi masih menjadi penyebab utama anemia pada remaja dan wanita usia produktif (Kemenkes RI, 2021)

Gaya hidup sehat merupakan pilar utama pencegahan hipertensi, DM tipe 2, dan anemia secara bersamaan. Pola makan seimbang dengan pembatasan konsumsi garam, gula, dan lemak jenuh terbukti efektif dalam mengendalikan tekanan darah dan kadar glukosa darah (WHO, 2020). Aktivitas fisik teratur minimal 150 menit per minggu dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan tekanan darah, serta membantu pengendalian berat badan (Bull et al., 2020).

Selain itu, konsumsi makanan kaya zat besi, protein, dan vitamin C berperan penting dalam pencegahan anemia, terutama pada kelompok rentan (Cappellini & Motta, 2015). Pemeriksaan kesehatan rutin, seperti pengukuran tekanan darah, gula darah, dan kadar hemoglobin, direkomendasikan sebagai langkah deteksi dini silent disease meskipun individu merasa sehat (Kemenkes RI, 2019).

Kesimpulan
Hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan anemia merupakan silent disease yang dapat berkembang tanpa gejala tetapi berdampak serius terhadap kesehatan. Berbagai bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa penerapan gaya hidup sehat melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, pengendalian berat badan, serta pemeriksaan kesehatan berkala mampu menurunkan risiko ketiga penyakit tersebut secara signifikan. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup sehat secara konsisten merupakan langkah preventif yang efektif dan berkelanjutan dalam mencegah silent disease.

Daftar   Pustaka :
American Diabetes Association. (2023). Standards of care in diabetes—2023. Diabetes Care, 46(Suppl. 1), S1–S291 (https://doi.org/10.2337/dc23-SINT) 

Bull, F. C., Al-Ansari, S. S., Biddle, S., Borodulin, K., Buman, M. P., Cardon, G., … Willumsen, J. F. (2020). World Health Organization 2020 guidelines on physical activity and sedentary behaviour. British Journal of Sports Medicine, 54(24), 1451–1462. (https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-102955) 

Cappellini, M. D., & Motta, I. (2015). Anemia in clinical practice—Definition and classification. Haematologica, 100(10), 1234–1237. (https://doi.org/10.3324/haematol.2015.133958)
 
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Badan Litbangkes.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil kesehatan Indonesia 2021. Jakarta: Kemenkes RI.

Knowler, W. C., Fowler, S. E., Hamman, R. F., Christophi, C. A., Hoffman, H. J., Brenneman, A. T., … Nathan, D. M. (2018). 10-year follow-up of diabetes incidence and weight loss in the Diabetes Prevention Program Outcomes Study. The Lancet, 374(9702), 1677–1686 (https://doi.org/10.1016/S0140-6736%2809%2961457-4) 

Whelton, P. K., Carey, R. M., Aronow, W. S., Casey, D. E., Collins, K. J., Dennison Himmelfarb, C., … Wright, J. T. (2018). 2017 ACC/AHA guideline for the prevention, detection, evaluation, and management of high blood pressure in adults. Hypertension, 71(6), e13–e115. (https://doi.org/10.1161/HYP.0000000000000065) 

World Health Organization. (2015). The global prevalence of anaemia in 2011. Geneva: WHO.

World Health Organization. (2019). Hypertension. Geneva: WHO.

World Health Organization. (2020). Guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: WHO.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

KRISTAL ADA DI URINE, KOK BISA?

MENGENAL APA ITU ANTIGEN DAN ANTIBODI : PILAR UTAMA SISTEM IMUN DALAM MELAWAN PENYAKIT

Benarkah Seblak Menyebabkan Usus Buntu??